UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi Papua. Meskipun begitu, UMKM di Papua menghadapi beberapa tantangan unik yang berbeda dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia
Papua dikenal dengan kerajinan unik seperti anyaman, noken (tas khas Papua), dan ukiran kayu. Produk-produk ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan banyak diminati oleh wisatawan serta kolektor, baik lokal maupun internasional. Kerajinan tersebut mencerminkan kekayaan budaya Papua dan potensi ekonomi yang besar.
Pertanian di Papua menghasilkan komoditas penting seperti kopi, sagu, dan kakao. Kopi Papua, terutama dari Wamena, dikenal karena kualitasnya yang tinggi dan telah menembus pasar internasional. Sagu, sebagai makanan pokok masyarakat Papua, juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah.
Papua memiliki garis pantai yang kaya akan hasil laut, termasuk ikan tuna, kerapu, lobster, dan kerang mutiara. Produk perikanan ini sangat diminati, terutama di pasar ekspor, dan berpotensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui usaha pengolahan hasil laut.
Ekowisata dan pariwisata berbasis budaya menjadi daya tarik utama di Papua. Festival seperti Festival Lembah Baliem dan Festival Danau Sentani menjadi ajang wisata budaya yang melibatkan banyak UMKM lokal. Mereka menyediakan layanan penginapan, pemandu wisata, serta suvenir berbasis budaya yang mendukung sektor pariwisata.
Infrastruktur di Papua masih menjadi salah satu kendala utama yang menghambat pengembangan UMKM. Keterbatasan akses transportasi dan jaringan jalan yang buruk membuat pengiriman produk, baik di dalam Papua maupun ke luar daerah, menjadi sulit. Terutama untuk sektor pertanian dan perikanan, produk yang bersifat mudah rusak (seperti hasil laut atau hasil panen) memerlukan waktu pengiriman yang cepat untuk menjaga kualitasnya.
Banyak pelaku UMKM di Papua yang kesulitan menjangkau pasar yang lebih luas. Meskipun produk dari sektor kerajinan tangan, pertanian, dan perikanan memiliki kualitas tinggi, minimnya jaringan distribusi dan keterbatasan akses ke pasar nasional dan internasional menjadi kendala utama. Misalnya, produk kerajinan tangan khas Papua dan mutiara dari sektor perikanan sulit dijual di luar Papua karena keterbatasan promosi dan keterhubungan dengan pasar besar.
Meskipun teknologi digital dapat membantu pelaku UMKM untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan efisiensi bisnis, rendahnya literasi teknologi masih menjadi masalah besar di Papua. Banyak UMKM di sektor kerajinan tangan, pertanian, dan perikanan belum memanfaatkan teknologi digital secara maksimal untuk memasarkan produk mereka secara online, baik melalui e-commerce atau media sosial.